Materi Sejarah Indonesia Wajib ini berisi tentang awal mula berdirinya VOC dan kebangkrutan.
Jumat, 19 Oktober 2018
Selasa, 18 September 2018
PENGERTIAN VOC
Pengertian, Tujuan, Latar Belakang dan Kebangkrutan VOC
k
PENGERTIAN VOC
Kongsi Dagang atau Perusahaan Hindia Timur Belanda (Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC) yang didirikan pada tanggal 20 Maret 1602. VOC adalah kongsi dagang terbesar di nusantara untuk menyatukan perdagangan rempah-rempah dari wilayah timur dalam memperkokoh sebuah kedudukan Belanda di Indonesia. VOC dipimpin oleh sebuah dewan yag beranggotakan 17 orang direktur, sehingga disebut "Dewan Tujuh Belas" yang juga disebut Heeren XVII. Markas besar Dewan ini berkedudukan di Amsterdam. Dalam menjalankan tugas, VOC memiliki hak Istimewa yang di sebut Hak Oktroi. antara lain :
- Melakukan monopoli perdagangan diwilayah antara tanjung harapan termasuk pulau Nusantara
- Membentuk angkatan perang sendiri
- melakukan peperangan
- mengadakan perjanjian dengan raja
- mengeluarkan mata uang sendiri
- mengangkat pegawai sendiri
- memerintah negeri jajahan
Pedagang dari bangsa Barat datang ke Indonesia dengan itikad baik dan mulai membentuk sebuah kongsi dagang. Seiring berjalannya waktu, kongsi dagang di Nusantara semakin banyak sampai timbul persaingan antara kongsi dagang satu dengan lainnya. Persaingan tersebut semakin ketat sampai tidak mengenal kongsi sesama bangsa. Hal ini mengakibatkan kerugian terhadap pemerintah Belanda karena para pedagang Belanda juga saling berseteru.
Sehubungan dengan hal itu, pada tahun 1598 pemerintah dan Parlemen Belanda (Staten Generaal) khususnya Johan van Oldenbarneveldt mengusulkan untuk membentuk sebuah kongsi dagang yang lebih besar dengan membentuk perusahaan dagang, seperti yang sudah dilakukan oleh Inggris (EIC) dan Perancis (French East India Company pada tahun 1604).
Usulan tersebut mendapat sambutan baik, dan pada 20 Maret 1602 didirikanlah sebuah kongsi dagang “Persekutuan Perusahaan Hindia Timur”atau lebih dikenal dengan sebutan VOC (Vereenidge Oostindische Compagnie).
Berdirinya VOC di Indonesia mempunyai tujuan tertentu yaitu antara lain :
- Untuk menghindari persaingan dagang yang tidak sehat sesama pedagang Belanda yang ada sebelumnya sehingga mendapatkan kentungan maksimal.
- Untuk memperkuat kedudukan bangsa Belanda terhadap suatu persaingan dengan para pedagang bangsa Eropa lainnya
- Untuk memonopoli perdagangan di wilayah Nusantara
- Untuk membantu dana pemerintah Belanda menghadapi Spanyol yang masih menduduki Belanda.
Gubernur Jenderal VOC
PIETER BOTH (1620-1614)
Selesai penugasannya sebagai perwira laut utama di Hindia Belanda (1599-1601), Pieter Both ditunjuk sebagai 'penguasa tertinggi' pada November 1609 dengan tugas utama untuk menciptakan monopoli perdagangan antara pulau pulau di Hindia Belanda hanya dengan Kerajaan Belanda, dan tidak dengan negara lain, terutama Inggris. Dan Pieter Both memulainya dengan mendirikan pos perdagangan di Banten dan Jakarta (1610).
Pieter Both memegang jabatan sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda dari 19 Desember 1610 hingga 6 November 1614. Dan dia berhasil mengadakan perjanjian perdagangan dengan Pulau Maluku, menaklukan Pulau Timor dan mengusir Spanyol dari Pulau Tidore.
Sesudah digantikan oleh Gubernur Jenderal Gerard Reynst, Pieter Both bertolak kembali ke Belanda dengan 4 kapal, tetapi malangnya dia tenggelam di perairan Mauritius bersama 2 kapalnya.
GERARD REYNST (1614-1615)
Informasi yang dapat diketahui bahwa Gerard lahir di Amsterdam pada tahun 1568. Ia adalah putra dari Pieter Rijnst (1510-1574), seorang pembuat sabun, dan ibunya bernama Trijn Sijverts. Pada 1599 ia menjadi pedagang dan pemilik kapal, dia merupakan pendiri dan anggota dari Nieuwe Compagnie atau Brabantsche. Salah satu perusahaan dagang Belanda. Pada 1602, Perusahaan ini kemudian bergabung ke (VOC).
Atas permintaan para kakak kelasnya di Perguruan Tinggi Heren XVII, ia menjadi Gubernur Jenderal pada 1613. Pada masa jabatanya, ia pernah mengirimkan salah satu kapalnya ke Laut Merah untuk memulai hubungan dagang dengan orang Arab. Ia meninggal setahun setelah tiba di Hindia Belanda karena terserang disentri. Maka dari itu ia tidak bisa berbuat banyak. Selain beberapa kegiatan kecil yang hanya sesekali berhasil.
LAURENS REAEL (1615-1619)
Laurens Reael adalah putra dari Laurens Jacobsz Reael, seorang pedagang di Amsterdam dan seorang penyair amatir yang menulis karya berjudul Geuzenliederen (Lagu dari geuzen). Keluarga Reael memiliki sebuah gudang yang akhirnya menjadi penginapan terkenal. Reael memiliki rekam jejak pendidikan yang bagus, terutama pada pelajaran matematika dan bahasa. Dia lalu belajar hukum di Leiden. Di sana dia tinggal di rumah Jacobus Arminius yang merupakan suami dari kakaknya, Lijsbet Reael. Reael meraih gelar doktornya pada tahun 1608.
Pada Mei 1611 dia menjadi komandan yang mengepalai armada yang terdiri dari 4 kapal menuju ke Hindia Belanda. Karena kinerjanya yang baik dia lalu diangkat menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke tiga pada tahun 1616. Dia diangkat saat VOC masih berkedudukan di Ternate, Maluku Utara. Pada tahun itu dia secara pribadi menyambut dengan baik Joris van Spilbergen dan Schouten & Le Maire, pedagang Belanda yang melakukan perjalanan ke Ternate melewati Selat Magelhaens dan Tanjung Horn. Dia tidak mengetahui bahwa VOC telah memerintahkan kapal Schouten & Le Maire untuk disita karena melakukan pelanggaran monopoli di kawasan Kepulauan Maluku. Setelah setahun berlalu pada 31 October 1617, Reael menyatakan mengundurkan diri setelah berselisih dengan direktur VOC (Lords XVII) mengenai perlakuan kepada pedagang pesaing asal Inggris dan warga lokal Kepulauan Maluku. Masalah ini terjadi berlarut-larut hingga pada 21 March 1619 hingga Jan Pieterszoon Coen bersedia mengganti posisinya sebagai Gubernur-Jenderal. Sebelumnya, Reael telah melakukan misi perang melawan Spanyol di Teluk Manila pada tahun 1617. Melawan Inggris di Bantam dan Maluku. Serta melawan Kesultanan Mataram di Jepara, Jawa Tengah.
JAN PIETERZOON
Pada usia 31 tahun, tepatnya tanggal 18 April 1618, ia diangkat menjadi Gubernur Jenderal. Akan tetapi baru pada 21 Mei 1619 ia resmi memangku jabatan tersebut dari Gubernur Jenderal sebelumnya, Laurens Reael. Setelah menjadi Gubernur Jenderal,Pada usia 31 tahun, tepatnya tanggal 18 April 1618, ia diangkat menjadi Gubernur Jenderal. Akan tetapi baru pada 21 Mei 1619 ia resmi memangku jabatan tersebut dari Gubernur Jenderal sebelumnya, Laurens Reael. Setelah menjadi Gubernur Jenderal, ia tidak tahan terhadap orang Banten dan orang Inggris di sana, maka ia pun memindahkan kantor Kompeni ke Jakarta, di mana ia membangun pertahanan. Pada tanggal 30 Mei 1619 dia menaklukkan Jayakarta dan namanya diubah menjadi Batavia (Batavieren).
Awalnya ia mau mengubah nama kota ini menjadi Nieuw Hoorn seperti kota kelahirannya, namun usul itu ditolak pimpinan VOC di Belanda. Nama Batavia diberikan untuk menghormati Suku Batavia yang dianggap sebagai leluhur bangsa Belanda dan digunakan sampai tahun 1942. Penduduk Batavia memberi julukan Mur Jangkung pada J.P Coen, namun tidak jelas apa yang menyebabkan ia diberi julukan tersebut. Secara fisik, ia memang bertubuh kurus dengan tinggi di atas rata-rata. Pendapat lain menyebutkan bahwa julukan tersebut berasal dari karya sastra jawa pra-kolonial berjudul Moer Djang Koeng di mana orang pribumi melafalkannya sebagai Mur Jangkung.[3]
Beberapa persoalan yang harus dihadapi oleh J.P Coen pasca resmi menjabat sebagai Gubernur Jenderal diantaranya yaitu protes keras Maluku yang monopoli VOC, menaiknya harga lada di Banten akibat ulah Inggris dan Cina, perlawanan dari laskar pendukung Mataram Islam, dan konflik dengan Kesultanan Banten di Jayakarta yang melibatkan Inggris.[2]
Sementara itu orang-orang Inggris tidak diam, mereka marah atas perlakuan orang Belanda terhadap orang Inggris di Maluku. Sebagai dendam mereka merebut sebuah kapal Belanda De Swarte Leeuw yang berisi penuh dengan muatan. Maka setelah itu pertempuran antara kedua kubu pun dimulai. J.P. Coen sebagai pemimpin Belanda, bisa memenangkan pertempuran melawan orang Inggris. Setelah menang melawan Inggris, ia merusak Jayakarta dan membangun benteng Belanda di kota itu. Di atas puing-puing kota Jayakarta ia membangun kota baru yang dinamakannya menjadi Batavia. ia tidak tahan terhadap orang Banten dan orang Inggris di sana, maka ia pun memindahkan kantor Kompeni ke Jakarta, di mana ia membangun pertahanan. Pada tanggal 30 Mei 1619 dia menaklukkan Jayakarta dan namanya diubah menjadi Batavia (Batavieren).
Awalnya ia mau mengubah nama kota ini menjadi Nieuw Hoorn seperti kota kelahirannya, namun usul itu ditolak pimpinan VOC di Belanda. Nama Batavia diberikan untuk menghormati Suku Batavia yang dianggap sebagai leluhur bangsa Belanda dan digunakan sampai tahun 1942. Penduduk Batavia memberi julukan Mur Jangkung pada J.P Coen, namun tidak jelas apa yang menyebabkan ia diberi julukan tersebut. Secara fisik, ia memang bertubuh kurus dengan tinggi di atas rata-rata. Pendapat lain menyebutkan bahwa julukan tersebut berasal dari karya sastra jawa pra-kolonial berjudul Moer Djang Koeng di mana orang pribumi melafalkannya sebagai Mur Jangkung.[3]
Beberapa persoalan yang harus dihadapi oleh J.P Coen pasca resmi menjabat sebagai Gubernur Jenderal diantaranya yaitu protes keras Maluku yang monopoli VOC, menaiknya harga lada di Banten akibat ulah Inggris dan Cina, perlawanan dari laskar pendukung Mataram Islam, dan konflik dengan Kesultanan Banten di Jayakarta yang melibatkan Inggris.[2]
Sementara itu orang-orang Inggris tidak diam, mereka marah atas perlakuan orang Belanda terhadap orang Inggris di Maluku. Sebagai dendam mereka merebut sebuah kapal Belanda De Swarte Leeuw yang berisi penuh dengan muatan. Maka setelah itu pertempuran antara kedua kubu pun dimulai. J.P. Coen sebagai pemimpin Belanda, bisa memenangkan pertempuran melawan orang Inggris. Setelah menang melawan Inggris, ia merusak Jayakarta dan membangun benteng Belanda di kota itu. Di atas puing-puing kota Jayakarta ia membangun kota baru yang dinamakannya menjadi Batavia.
Faktor Penyebab Runtuhnya VOC
VOC yang pernah kokoh dan jaya bisa runtuh atau hancur karena adanya beberapa hal yaitu antara lain sebagai berikut :
- Dalam Keuntungan VOC semakin menurun
- Pegawainya banyak yang korupsi
- karena adanya Perubahan politik Belanda dari berdirinya Republik Bataaf 1795 yang demokratis dan liberal dengan menganjurkan perdagangan bebas
- VOC mempunyai banyak hutang
- Pembiayaan perangSemakin banyaknya persaingan dagang di Asia khususnya Inggris dan Perancis
Terima Kasih
Hidayat Fitriyanto, S. Pd
Langganan:
Komentar (Atom)
Model Pembelajaran
Ini adalah Presentasi Microsoft Office yang disematkan, didukung oleh Office Online .
-
Pengertian, Tujuan, Latar Belakang dan Kebangkrutan VOC k PENGERTIAN VOC Kongsi Dagang atau Perusahaan Hindi...
-
Ini adalah Presentasi Microsoft Office yang disematkan, didukung oleh Office Online .
-
Ini adalah Presentasi Microsoft Office yang disematkan, didukung oleh Office Online .




